Oktober 26, 2011 oleh gitablu
Membaca suatu komen di DA membuat saya mengingat bagaimana saya menggambar pertama kalinya. Well, saya belajar gambar dengan meniru, bahkan sebetulnya dengan cara menjiplak. Saya taruh gambar aslinya di bawah kertas kosong, lalu saya jiplak. Itu dulu, waktu msh TK dan SD. Saya sudah tidak menjiplak lagi setelah kelas 4 SD. Namun saya masih meniru gambar sampai kira-kira SMA.
Dulu, orang2 di sekitar saya berkomentar jika gambar tiruan saya itu tidak persis dengan aslinya, maka kurang ‘oke’. Well, dulu saya belajar gambar dengan meniru hingga persis. Saya baru mengembangkan style gambar sendiri akhir2 ini, dan sekarang jika saya menggambar fanart, saya ingin gambar itu berbeda sekali dengan gambar aslinya. Makin beda, malah makin menunjukan kekhasannya itu, walau ‘cuma’ fanart.
Fanart bagi saya adalah bentuk apresiasi dari karya asli yang saya buat fanartnya itu, dan menggambarkan bagaimana saya melihat cerita itu. Dulu saya bisa menggambar fanart Rurouni Kenshin semirip2 mungkin dengan gambar aslinya. Sekarang saya belum mencoba membuat fanart Kenshin lagi, tapi rasa2nya hasilnya akan berbeda sekali dengan 2-3 tahun yang lalu .
(Susah mencari gaya gambar sendiri. Para komikus dan ilustrator handal lainnya juga butuh waktu mengembangkan style mereka sendiri.. maka dari itu gambar menjadi unik dan berbeda.)
Kembali ke fanart lagi, akhir2 ini yang sering saya buat fanartnya malah karakter dari anime/manga shoujo, genre yang hampir tidak pernah saya lirik. Tetapi marimite (maria-sama ga miteru) sudah mencuri hati saya sejak beberapa waktu ini, terutama salah satu tokohnya, Satou Sei. Bukan tokoh utama, tapi pernah menjadi tokoh penting dalam cerita, dulu, sebelum season 3 dan 4 muncul. Saya mempelajari karakter ini selama beberapa waktu, dan akhirnya mencoba membuat sendiri fanartnya. Dari fanart Sei pertama yang saya buat, hingga yang paling baru, tidak ada yang sama persis dengan gambar aslinya. Lanjut Baca »