DISCLAIMER: I don’t own maria-sama ga miteru or any of the character from that anime.
note : mengandung sedikit unsur yuri/shoujo-ai. Maka dari itu, saya memberikan rating untuk cerita saya sendiri adalah : 15 thn plus2 -> usia yg disarankan
===========================================
Close your eyes
Feel the ocean where passion lies
Silently the senses
Abandon all defenses
—Sleepwalker—-
Langkahnya begitu berat. Setiap kali ia bergerak, semakin terasa jauh dari alam sadarnya. Matanya terbuka, namun tak terlihat pancaran sinar kehidupan. Begitu sayup, begitu gelap. Pandangannya kosong, mulutnya setengah terbuka, bergumam aneh tanpa ada yang mengerti, wajahnya yang pucat tertutup oleh rambut kuningnya yang menjuntai ke bawah.
Diantara remang lampu ia berusaha membawa langkah kakinya. Berjalan tak tentu arah, dan membiarkan alam bawah sadarnya yang menjadi penuntunnya. Dia tampak tahu ke mana ia akan pergi, aneh memang, karena dirinya sendiri pun tak menyadarinya. Keadaan semakin senyap, dan hanya suara langkah kakinya yang makin terdengar merobek keheningan malam.
Setelah membiarkan dirinya dituntun oleh kekuatan yang ia tak sadari, ia akhirnya sampai ke tujuannya. Puntu didepannya tertutup, dan dia berdiri mematung di sana. Hingga akhirnya tangannya terangkat dan mengetuk.
tok..tok…tok..
Tiga ketukan pelan itu akhirnya dijawab. Pintu terbuka, dan seorang gadis berdiri di depannya. Kebingungan, si gadis itu menatap tamu asingnya, tetapi ia yang berdiri di hadapannya tak bergerak, tak berbicara, bahkan sepatah katapun tak terucap. Dengan matanya yang kosong, dia membalas tatapan si gadis.
Sleepwalker seducing me
I dare to enter your ecstacy
Lay yourself now down to sleep
In my dreams you’re mine to keep
Tetapi, tanpa ada yang menyangka, dan mungkin dia pun tak akan menyangkanya, tangannya terulur, dan memeluk gadis itu erat. Begitu erat dekapannya, seperti seseorangnya yang memuaskan rindunya kepada kekasihnya yang sudah lama tak ia temui. Perlawanan si gadis tampaknya sia-sia, ia memeluknya semakin kuat.
Di tengah kebingungan si gadis, dia tiba-tiba menarik bibirnya, masuk ke dalam kecupannya. Nafasnya memburu, dan terus melumatnya seperti kesetanan. Percumalah si gadis berusaha melepaskan diri. Dia terus mencengkramnya, dan mulai menjelajahi wajah dan leher si gadis dengan ciumannya yang terasa panas membakar.
Si gadis ketakutan, kebingungan. Dia yang kini sedang menyerang, berada sangat dekat dengannya. Dia seperti memiliki tenaga seekor harimau buas yang sedang menangkap mangsanya dalam gengamannya dan enggan untuk melepaskannya.
Si Gadis berteriak di dalam hati, tercekat dia tak mampu mengeluarkan suara
sedikitpun, saat dia mencoba melepaskan pakaiannya. Tetapi, tiba-tiba saja, sang penyerang itu berhenti. Dia terkulai lemas, ambruk, dan rebah di atas si Gadis itu.
Dengan rasa bingung yang berubah menjadi kepanikan luar biasa, si Gadis berusaha bangun dan mengangkat tubuh dia dari atasnya. Si Gadis menjauh dari dia yang tadi menyerangnya dengan sangat beringas, tanpa memberikan kesempatan barang sejenak untuk membela dirinya.
Si Gadis, masih sedikit shock, memperhatikan penyerangnya. Dia tidak bergerak sama sekali. Tubuhnya terlungkup dengan wajah menghadap tanah. Dia tampak begitu tak berbahaya, berbeda dengan beberapa menit yang lalu. Si Gadis, dengan rasa takut akan serangan susulan, mencoba merapikan pakaiannya, namun sia-sia. Dia sudah mengoyaknya dengan sekuat tenaga, dan kini si Gadis tak bedaya untuk menutupi tubuhnya yang gemetaran.
Namun, si penyerang tidak melanjutkan aksinya. Dia tetap tak bergerak, seakan
seluruh tenaganya sudah habis.
Malam panjang kembali bergulir, menyisakan banyak tanya dalam benak si Gadis. Namun hanyalah kesunyian mencekam yang menjawabnya.
****
Sleepwalkers often have little or no memory of the incident, as they are not truly conscious. Although their eyes are open, their expression is dim and glazed over.
Sei terbangun. Perlahan ia membuka matanya dan melihat suasana yang begitu asing. Ini bukan kamarnya, pikirnya dengan cepat. Dengan satu tangan, ia memegang kepalanya yang terasa berat, bahunya juga begitu pegal. Dengan sangat perlahan, Sei bangun dan mulai memeriksa sekelilingnya.
Ya, kamar ini bukan kamar miliknya. Dari warna cat dan interioranya. Dia berusaha memiliah informasi yang berkelebat di pikirannya. Mengapa ia bisa di sini? Di manakah ini?
“Ah, selamat pagi. Kau sudah bangun rupanya?”
Sei menengok ke arah suara itu. Seorang gadis dengan tinggi sedang, berada di hadapannya. Wajahnya tampak tak asing, namun Sei tidak mengingat di mana ia pernah melihat wajah itu.
“Anu, di mana ini? Apa yang terjadi?” tanya Sei.
Gadis itu mendekati Sei dan duduk tak jauh darinya. Dari dekat, Sei dapat melihat wajahnya dengan lebih jelas. Cantik, dengan mata besarnya. Wajah yang begitu anggun dan dewasa untuk gadis seusianya. Tetapi, mata si gadis terasa begitu kelam. Dia tampak menahan semua beban dalam hidupnya dan menyimpannya rapat-rapat.
“Kau tiba-tiba tertidur di sini,” jawab si gadis. Mendengarnya, Sei langsung menepuk dahinya.
“Gawat! Kebiasaan buruk ini ternyata memang benar-benar berbahaya. Aku sampai datang ke kamar yang asing, dan membuat kaget pemiliknya!”
Sei merasa kikuk dan canggung. Sebetulnya, dia merasa tak enak dengan si pemilik kamar ini.
“Maaf sekali. Pasti aku membuatmu terkejut ya? Aku memang sering berjalan-jalan sembari tidur, namun baru kali ini aku berjalan sampai tertidur di kamar orang lain,”
Gadis itu mengangguk dengan lembut. Melihatnya, Sei makin kebingungan. Apakah gadis ini tidak panik sama sekali melihat seorang asing tiba-tiba datang dan tertidur di kamarnya?
“Ah, omong-omong kita belum berkenalan. Aku Satou Sei. Dan aku tinggal bersama dua orang temanku di apartemen.. Oh Astaga! Itu apartemenku di luar sana!” Sei melonjak kaget saat melihat ke luar jendela.
“Itu, apartemenku! Di seberang kamarmu, di luar sana,” tunjuknya ke arah sebrang. Sei lalu menyadari yang terjadi sebetulnya : dia berjalan keluar, menyebrangi jalan raya, dan masuk ke dalam apartemen yang ada di sebrang tempat tinggalnya, lalu masuk ke dalam kamar seseorang, lalu tidur di sana.
Dan semuanya di lakukan dengan sambil tertidur. Sei bergidik ngeri saat membayangkan dirinya dengan kesadaran seperti zombie, menyebrangi jalan raya. Dia bisa tertabrak kapan saja.
“Aku Toudo Shimako. Aku tinggal di sini sendirian,”
Sei memandang lekat Shimako. Seperti ada sesuatu yang merasuki dirinya saat mendengar dia menyebutkan namanya. Suatu rasa rindu yang aneh, tak bisa Sei jelaskan dengan kata-kata. Lagipula, wajah itu teralu familiar, namun Sei tak bisa mengingatnya di mana ia pernah melihatnya.
“Shimako, maaf sekali. Maaf sekali. Pasti aku membuatmu ketakutan dan kini aku begitu merepotkanmu,” kata Sei. Shimako hanya tersenyum tipis.
“Anu, pasti kedua teman sekamarmu juga panik mencarimu. Apalagi mereka belum tahu kau berada di sini. Kau bisa memakai telepon di sini dan menghubungi teman-temanmu.”
Shimako mengulurkan telepon kepada Sei. Suatu perasaan ganjil menyeruak saat tak sengaja tangannya bersentuhan dengan tangan Sei. Shimako buru-buru menarik tangannya, dan membalikan badannya.
“Ah, terima kasih, Shimako,” Sei juga merasakan perasaan tak biasa itu. Ada suatu dorongan dari dalam dirinya yang begitu menusuk. Sei berusaha membiarkan perasaannya itu, dan menghubungi teman-temannya sekarang.
Dia menekan tombol telepon selular, menghubungi nomor yang sudah ia cukup hafal.
“Ah Youko? Ini aku, Sei. Aku sekarang ada di apartemen seberang dari apartemen kita. Ah apa? Bagaimana aku bisa di sini? Nanti saja aku ceritakan, dan sekalian juga kau ajak Eriko. Cepatlah, aku tunggu,”
Sleepwalking has attracted a sense of mystery, but it has not been seriously investigated and diagnosed until the last century. Sleepwalking was initially thought to be a dreamer acting out a dream.
****





