Feeds:
Pos
Komentar

Ada 1 karakter yang sering banged saya gambar. Sangat-sangat-sangat sering. Tapi dibilang OC (original character) yah juga bukan sih. Karakter ini sebetulnya berasal dari serial anime sekaligus manga dan light novel, Maria-sama ga Miteru (marimite). Di dalam serial itu, ada 1 karakter, Satou Sei, yang menghiasi buku sketsa dan halaman deviantart saya. Dan saya pasti sering menggambar dia dalam pakaian spesifik, yang bahkan pakaian ini cuma muncul beberapa menit di anime. Tapi sangat-sangat mencuri perhatian saya selama bertahun-tahun.

Pertama kali muncul di episode 3, tepatnya saat sesi latihan untuk drama, Sei tampil dengan pakaian ala Renaissance, yang mungkin berasal dari abad 15 ato 16. Damn… saya yang emang menggemari sejarah dari medieval dan Renaissance ini, langsung tertarik. Beberapa waktu lamanya, saya mencoba browsing dan mencari apakah ada orang lain di internet yang menggambar Sei dengan penampilan kayak gini. Ternyata… hampir ga ada. Lalu saya pikir.. screw it. Jika ga ada yang buat, biarin saya yang buat sendiri. Dan ini adalah awal dari banyaknya sketsa-sketsa Sei dalam period clothing ini.

Lanjut Baca »

My fancy paper…

Ada yang pernah bilang ke saya, untuk ngegambar nda teralu penting peralatan mahal yang bermerk. Peralatan murah juga bisa kok bikin gambar yang bagus. Pernyataan tersebut ga salah, tapi juga ga sepenuhnya benar. Di satu sisi, memang ga butuh peralatan gambar super mahal yang fancy untuk bikin sesuatu yang bagus. Tapi, ada sebabnya kenapa ada art supplies yang fancy dan harganya selangit. Jawabannya tentu kualitas.. dan harga (dalam hal ini) emang ga bisa bohong.

Job utama saya sendiri bukan illustrator atau orang yang membuat gambar. Tapi saya emang suka ngegambar untuk kesenangan pribadi. Jadinya saya ga teralu fanatik soal peralatan gambar. Cuma sejak kejadian sketch book saya basah kena air minum, dan membuat semua gambar dengan marker murah jadi luntur, saya jadi mikir-mikir lagi soal fancy art supplies. Sejak itu saya mulai memperhatian peralatan gambar yang saya punya. Ga harus mahal banged, yang penting bukan sekedar ada.

Selain itu gambar-gambar lama saya yang menggunakan marker murah juga makin lama.. makin luntur. Sedangkan gambar yang (kebetulan) saat itu menggunakan marker yang lebih bagus, ternyata jauh lebih bertahan.

Tapi ya karena peralatan gambar fancy itu harganya memang kurang cocok di dompet (dan kudu nabung), saya bener-bener perhitungan untuk menggunakannya. Kayak makai my fancy Canson paper. Saya pake kertas ini untuk gambar yang uda bener-bener mantep. Kalau baru sketsa biasa, yah saya akan make kertas biasa aja. Jenisnya paling kertas untuk mesin printer, yang sekitar 100 atau 150 gsm.

Saya ada 2 jenis Canson, yang khusus untuk pencil dan ink, dan yang satu lagi untuk water color. Ini sumpah.. beda banged teksturnya dengan kertas biasa. Dan jika memang bisa menggunakannya, hasilnya akan lebih mencolok lagi.

Lanjut Baca »

dsc04395

Sejauh yang saya ingat, saya baru menekuni gambar digital ntu sejak tahun 2007. Belajar pertama kali menggunakan Photoshop CS, dan rasanya pengen bikin digital art kayak manga-mangaan gitulah. Berbekal sejumlah tutorial dari internet, saya mencoba sendiri gimana bikin digital art. Dan harus saya akuin, yang dulu saya kira uda keren luar biasa banged itu, ternyata berbeda jauh dengan yang bisa saya buat sekarang.

Yang masih sama itu adalah peralatan gambarnya. Masih menggunakan Adobe Photoshop, walaupun sekarang uda pake versi CS3. Selain itu masih pake mouse. Wait, what? Iya, pake mouse. Saya memang punya pen tablet, tapi uda rusak, dan belum saya beli yang baru. Toh saya pikir job utama saya bukan digital illustrator, dan saya ngegambar demi kesenangan doang.

Saya sendiri ga pernah mendapat pendidikan formal art, walaupun saya memang ngambil kuliah desain grafis. Tapi.. desain grafis dan ilustrasi itu dunia yang sama tapi berbeda. Ada beberapa hal-hal dasar tentang gambar yang memang saya ketahui dari pendidikan formal ntu, tapi sisanya memang mencoba mencari info sendiri dan eksperimen. Misalnya aja soal komposisi gambar, teori warna, tehnik gambar, dan sebagainya itu memang saya akuin saya peroleh dari pendidikan formal. Tapi ya itu.. kuliah desain grafis cuma menyentuh permukaan dasarnya aja, dan tidak mendalami semuanya. Lanjut Baca »

Bleaching my hair

Awalnya, saya sangat naif soal bagaimana proses mengecat rambut itu. Yeah, naif banged. Karena saya pikir semua proses ngecat rambut sampe jadi yang pirang pucat itu, secepat menjetikan jari. Hohoho, ternyata tidak sama sekali. Bahkan harus melalui aneka tahapan, yang memakan waktu lama banged. Dan itu juga hasilnya belum tentu bisa sama dengan harapan, karena rambut tiap orang berbeda-beda.

Oke, sejak masih remaja sebetulnya saya pengin sekali rambut pirang. Kalo dipikir-pikir, mungkin karena saya merasa super saiyan (Dragon Ball)  itu keren betul, dan rambut mereka pirang. Makanya saya mau rambut seperti itu. Ahh.. masa-masa sekolah itu sangat rumit, dan saya harus menahan impian rambut pirang hingga belasan tahun. Susah sekali.

Bersekolah di tempat yang sangat strict, termasuk soal penampilan. Ada rules ketat mengenai cat rambut, hingga saya harus menahan diri sampai memasuki kuliah. Saya akhirnya bisa ngecat rambut, walaupun belum mencapai keinginan awal; pirang. Yah, masa kuliah itu rambut saya kecoklatan gelap.

Dasar rambut hitam khas Asia, susah banged cat nempel. Rambut saya tebal dan hitam, bahkan perhelainya saja punya ketebalan ekstra. Hal ini berarti kudu pake cat rambut khusus dengan takaran yang cukup tinggi dosisnya. Tapi itu juga masih aja ga memenuhi harapan saya.

Lanjut Baca »

Achivement Unlocked

Dulu pas masih bocah, saya nda punya kamar sendiri. Saya tidur sama oma saya, dan baru sekitar kelas 6 SD menjelang SMP, saya akhirnya dibuatin kamar sendiri. Kamar saya ga gitu gede, tapi karena saya tidur sendirian makanya ga gitu masalah.

Saya tipe orang yang suka nempel poster di kamar. Sejak pertama kali dikasih kamar tidur pribadi, saya uda nempel poster di mana-mana. Dulu pas masih remaja, poster yang saya tempel adalah aneka boyband dari barat atopun asia. Sekarang sih rata-rata poster game online (yang saya dapatkan dari berbagai event game, atau yang dikasih sama publishernya). Target saya mendatang adalah nyetak poster ukuran sekitar a0, untuk ditempel di dinding utara. Posternya gambar frozen, uda saya siapin, tapi saya males mulu ke tukang cetak. Apalagi tukang cetak deket rumah saya uda pindah.

Emangnya boleh gitu nempel poster? Boleh-boleh aja di rumah saya sih. Cuma masalahnya ini cat tembok uda makin luntur, dan warnanya makin jelek. Untuk ngecat, artinya saya mesti ngeluarin aneka perabot dari kamar, dan itu nda bisa dalam waktu dekat. Apalagi saya uda ngebeli itu meja tulis Frozen yang tingginya hampir nyaingin tinggi badan saya. Kini itu meja uda berdiri di samping ranjang. Ranjangnya sih masih rangka kayu jadul. Waktu saya mau beli ranjang Frozen juga, ternyata ukurannya kegedean. Entah gimana ceritanya, ranjang kayu saya ini emang panjangnya agak aneh. Dibilang single bed, tapi kekecilan untuk ukuran single bed jaman sekarang. Soalnya saya pernah liat-liat ranjang Frozen untuk single bed, dan kebanyakan ukurannya kok lebih gede dari ranjang single bed di rumah.

 

Lanjut Baca »

Khilaf akhir tahun

22n3d

Central Park itu mall yang sesuatu banged. Beberapa tahun yang lalu, mereka ngadain tema Natal Disney Princess, dan ada Frozennya. Tahun sekarang, tema mereka Frozen bahkan ngebawa aktor aslinya impor dari Disneyland Amrik. Nope, bukan Idina Menzel ataupun Kristen Bell, tapi yang meranin karakter Elsa dan Anna di themepark Disneyland. Itu sesuatu banged.. sesuatu banged…

Dan saya nyesal banged ga ikutan ngantri buka tenda demi bisa handshake. I know… elsa dan anna itu fictional character yang ada di kartun. Tapi ketemu dengan aktor themeparknya aja uda sesuatu banged. Tapi ya sudahlah, sudah terlanjur terjadi.

Lanjut Baca »

Selain Paperclip, Gramedia mungkin adalah salah satu tempat yang sangat menggoda batin. Ada dorongan untuk selalu ngecek bagian buku-buku baru, atau kalau mau sangat spesifik: bagian buku anak-anak. Hanya untuk mengecek, apakah ada buku Frozen terbaru di sana, dan memang ada.

Frozen: Anna & Elsa: Memori dan Keajaiban adalah judul kedua, dari seri novel Anna & Elsa: Sisterhood is the Strongest Magic. Menurut halaman Wiki-nya Frozen, akan ada 5 buku. Nah, Indonesia baru kebagian sampai judul kedua, yakni Memori dan Keajaiban (Memory and Magic, untuk versi internasionalnya). Seri ini akan memfokuskan pada relasi antara Anna dan Elsa, setelah mereka kembali bersama. Atau sih lebih spesifiknya, tentang bagaimana hari-hari mereka setelah Musim Dingin Abadi Arendelle selesai.

Ada banyak hal yang belum terjawab dalam Frozen, dan rasanya susah untuk dijabarkan satu-persatu dalam sekuelnya nanti di tahun 2016. Maka dari itu seri novel seperti ini pas sekali untuk menjelaskan banyak hal dalam hubungan Anna dan Elsa. Misalnya saja saya selalu bertanya-tanya apakah Anna ingat mengenai kejadian naas saat dirinya berusia 5 tahun itu? Sebuah pristiwa yang menjadi pencetus jauhnya hubungan antara dia dan kakaknya, Elsa, selama 13 tahun. Buku ini mencoba menjawab semuanya itu, tapi dengan nuansa yang amat ringan. Walaupun sebetulnya topik yang dibahas, tidaklah semudah itu.

 

Lanjut Baca »