Feeds:
Pos
Komentar

Bleaching my hair

Awalnya, saya sangat naif soal bagaimana proses mengecat rambut itu. Yeah, naif banged. Karena saya pikir semua proses ngecat rambut sampe jadi yang pirang pucat itu, secepat menjetikan jari. Hohoho, ternyata tidak sama sekali. Bahkan harus melalui aneka tahapan, yang memakan waktu lama banged. Dan itu juga hasilnya belum tentu bisa sama dengan harapan, karena rambut tiap orang berbeda-beda.

Oke, sejak masih remaja sebetulnya saya pengin sekali rambut pirang. Kalo dipikir-pikir, mungkin karena saya merasa super saiyan (Dragon Ball)  itu keren betul, dan rambut mereka pirang. Makanya saya mau rambut seperti itu. Ahh.. masa-masa sekolah itu sangat rumit, dan saya harus menahan impian rambut pirang hingga belasan tahun. Susah sekali.

Bersekolah di tempat yang sangat strict, termasuk soal penampilan. Ada rules ketat mengenai cat rambut, hingga saya harus menahan diri sampai memasuki kuliah. Saya akhirnya bisa ngecat rambut, walaupun belum mencapai keinginan awal; pirang. Yah, masa kuliah itu rambut saya kecoklatan gelap.

Dasar rambut hitam khas Asia, susah banged cat nempel. Rambut saya tebal dan hitam, bahkan perhelainya saja punya ketebalan ekstra. Hal ini berarti kudu pake cat rambut khusus dengan takaran yang cukup tinggi dosisnya. Tapi itu juga masih aja ga memenuhi harapan saya.

Lanjut Baca »

Achivement Unlocked

Dulu pas masih bocah, saya nda punya kamar sendiri. Saya tidur sama oma saya, dan baru sekitar kelas 6 SD menjelang SMP, saya akhirnya dibuatin kamar sendiri. Kamar saya ga gitu gede, tapi karena saya tidur sendirian makanya ga gitu masalah.

Saya tipe orang yang suka nempel poster di kamar. Sejak pertama kali dikasih kamar tidur pribadi, saya uda nempel poster di mana-mana. Dulu pas masih remaja, poster yang saya tempel adalah aneka boyband dari barat atopun asia. Sekarang sih rata-rata poster game online (yang saya dapatkan dari berbagai event game, atau yang dikasih sama publishernya). Target saya mendatang adalah nyetak poster ukuran sekitar a0, untuk ditempel di dinding utara. Posternya gambar frozen, uda saya siapin, tapi saya males mulu ke tukang cetak. Apalagi tukang cetak deket rumah saya uda pindah.

Emangnya boleh gitu nempel poster? Boleh-boleh aja di rumah saya sih. Cuma masalahnya ini cat tembok uda makin luntur, dan warnanya makin jelek. Untuk ngecat, artinya saya mesti ngeluarin aneka perabot dari kamar, dan itu nda bisa dalam waktu dekat. Apalagi saya uda ngebeli itu meja tulis Frozen yang tingginya hampir nyaingin tinggi badan saya. Kini itu meja uda berdiri di samping ranjang. Ranjangnya sih masih rangka kayu jadul. Waktu saya mau beli ranjang Frozen juga, ternyata ukurannya kegedean. Entah gimana ceritanya, ranjang kayu saya ini emang panjangnya agak aneh. Dibilang single bed, tapi kekecilan untuk ukuran single bed jaman sekarang. Soalnya saya pernah liat-liat ranjang Frozen untuk single bed, dan kebanyakan ukurannya kok lebih gede dari ranjang single bed di rumah.

 

Lanjut Baca »

Khilaf akhir tahun

22n3d

Central Park itu mall yang sesuatu banged. Beberapa tahun yang lalu, mereka ngadain tema Natal Disney Princess, dan ada Frozennya. Tahun sekarang, tema mereka Frozen bahkan ngebawa aktor aslinya impor dari Disneyland Amrik. Nope, bukan Idina Menzel ataupun Kristen Bell, tapi yang meranin karakter Elsa dan Anna di themepark Disneyland. Itu sesuatu banged.. sesuatu banged…

Dan saya nyesal banged ga ikutan ngantri buka tenda demi bisa handshake. I know… elsa dan anna itu fictional character yang ada di kartun. Tapi ketemu dengan aktor themeparknya aja uda sesuatu banged. Tapi ya sudahlah, sudah terlanjur terjadi.

Lanjut Baca »

Selain Paperclip, Gramedia mungkin adalah salah satu tempat yang sangat menggoda batin. Ada dorongan untuk selalu ngecek bagian buku-buku baru, atau kalau mau sangat spesifik: bagian buku anak-anak. Hanya untuk mengecek, apakah ada buku Frozen terbaru di sana, dan memang ada.

Frozen: Anna & Elsa: Memori dan Keajaiban adalah judul kedua, dari seri novel Anna & Elsa: Sisterhood is the Strongest Magic. Menurut halaman Wiki-nya Frozen, akan ada 5 buku. Nah, Indonesia baru kebagian sampai judul kedua, yakni Memori dan Keajaiban (Memory and Magic, untuk versi internasionalnya). Seri ini akan memfokuskan pada relasi antara Anna dan Elsa, setelah mereka kembali bersama. Atau sih lebih spesifiknya, tentang bagaimana hari-hari mereka setelah Musim Dingin Abadi Arendelle selesai.

Ada banyak hal yang belum terjawab dalam Frozen, dan rasanya susah untuk dijabarkan satu-persatu dalam sekuelnya nanti di tahun 2016. Maka dari itu seri novel seperti ini pas sekali untuk menjelaskan banyak hal dalam hubungan Anna dan Elsa. Misalnya saja saya selalu bertanya-tanya apakah Anna ingat mengenai kejadian naas saat dirinya berusia 5 tahun itu? Sebuah pristiwa yang menjadi pencetus jauhnya hubungan antara dia dan kakaknya, Elsa, selama 13 tahun. Buku ini mencoba menjawab semuanya itu, tapi dengan nuansa yang amat ringan. Walaupun sebetulnya topik yang dibahas, tidaklah semudah itu.

 

Lanjut Baca »

Sering kali saya harus ngehindarin toko-toko buku, karena teralu banyak godaan di sana. Misalnya aja saat saya lewat depan paperclip di kokas. Padahal maksudnya mau pergi makan ke burger king, tapi saya malah mampir sebentar ke Paperclip. Saya tau persis tujuan saya, rak-rak buku terdepan, khususnya bagian buku anak-anak. Oke, liat-liat sebentar. Belum ada buku Frozen baru sejauh ini.

Pas saya mau keluar dari sana, terlihatlah buku ini di rak bagian buku-buku baru. Damn. Dan duit jatah makan saya terpaksa harus kegeser dikit krn beli buku ini. Saya selalu bawa duit agak ngepas kalau jalan-jalan, apalagi cuma berdua sama temen saya.

null

Tapi itu buku yang sangat bagus. Overall buku ini memang dibuat untuk anak-anak. Namun menyimpan sejumlah ‘easter egg’ di dalamnya, yang biasanya hanya diketahui oleh orang dewasa. Yang membuat saya suka adalah easter egg di sini, beberapa lagi adalah fun facts seputar Frozen. Really interesting.

Lanjut Baca »

Oke.. ada sebuah detil yang sebetulnya sangat mengganggu pikiran saya. Yeah, sejak pertama kali saya nonton frozen (damn..), saya sadar betul film ini bersetting di abad 19. Era di mana belum ditemukan pakaian dalam, yang bentuknya kayak yang kita pakai sekarang. Yeah right, belum ada bra, ataupun celana dalam yang ngepres kayak yang kita-kita pakai sekarang.

Well, tentu aja manusia abad 19 sudah mengenal pakaian dalam, namun modelnya berbeda. Misalnya saja, wanitanya tidak menggunakan bra untuk menopang payudara, melainkan korset. Saya bahagia sekali hidup di jaman ini, sebab saya ga suka pake korset. oke.. nevermind.. too much information.

Tapi dalam konteks Frozen, tentu saja kedua karakter wanita di film ini, Elsa dan Anna, jelas belum memakai bra ataupun celana dalam yang kayak kita pakai di era ini. Besar kemungkinan mereka memakai korset.

Lalu gimana bagian bawahnya?

Lanjut Baca »

Saya memang ga nonton premiernya, tapi saya ga gitu mempermasalahkan kayak begituan. Well, hari ini saya akhirnya nonton Frozen Fever, 2 hari setelah premier di Indonesia. First things first, Frozen Fever adalah mini movie, alias durasinya benar-benar singkat. Yup, sekitar 7 menit, dan sebagian besar isi film tersebut adalah lagu ini:

Lanjut Baca »